Senin, 06 April 2009

MASALAH TRANSPORTASI KRAYAN&KRAYAN SELATAN


Warga perbatasan Kalimantan Timur yang tinggal di Kecamatan Krayan Selatan, Kabupaten Nunukan, sebulan ini sulit mendapatkan bahan pokok. Kalaupun ada, harganya mahal karena stok di daerah itu sedikit. Kekurangan stok disebabkan pesawat perintis jarang mendarat di daerah itu. Warga mengharapkan pemerintah menghidupkan kembali penerbangan perintis ke daerah terisolasi itu. Camat Krayan Selatan Selutan Tadem saat dihubungi dari Balikpapan, Rabu (4/2), mengatakan, harga gula Rp 25.000 per kilogram, solar dan bensin Rp 30.000 per liter. ”Stok amat sedikit,” katanya. Selutan mengatakan, Krayan Selatan berpenduduk 2.500 jiwa yang tersebar di 25 desa. Kecamatan ini berbatasan dengan Negara Bagian Sarawak, Malaysia. Krayan Selatan cuma bisa dijangkau dengan pesawat. ”Tidak ada sungai dan jalan yang terhubung dengan daerah kami,” kata laki-laki keturunan Dayak Lundayeh itu.Menurut Selutan, penerbangan tidak terhenti total. Long Layu, ibu kota Krayan Selatan, masih didarati pesawat Cessna 206 milik maskapai misionaris Kristen, Mission Aviation Fellowship (MAF), dua kali seminggu. Namun, pesawat jenis itu cuma dapat mengangkut barang maksimal 450 kg atau setara lima orang. ”Dengan begitu, sulit bagi kami mendapat pasokan barang baru sehingga selalu tergantung dari Miri di Sarawak, Malaysia, yang bisa kami tempuh dengan jalan kaki,” kata Selutan. Warga yang ingin bepergian dengan pesawat MAF, lanjut Selutan, harus merogoh uang sekitar Rp 1 juta untuk tujuan ke Tarakan, kota di selatan Pulau Nunukan. Jika urusan di kota itu sudah selesai, kadang-kadang mereka menunggu lama untuk dapat pulang. ”Saya pergi ke Nunukan untuk banyak keperluan sejak 17 Januari, tetapi baru bisa pulang 10 Februari,” ujarnya. Selutan mengatakan, Pemkab Nunukan akan memberi subsidi kepada maskapai yang mau melayani rute ke Long Layu. Namun, sampai saat ini program itu belum dilelang sehingga belum diketahui maskapai yang dapat menjalankannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar